da June 2015 | BorneoS.F

apa yang terjadi

Penyiapan obat dan perbekalan farmasi lainnya, meliputi: pemilihan;
pengadaan (perencanaan, teknis pengadaan, penerimaan, dan
penyimpanan);  pendistribusian, penghapusan dan pemusnahan, pencatatan
dan pelaporan, jaminan mutu, serta monitoring dan evaluasi.
  Layanan Informasi Obat, meliputi: penyediaan area konseling khusus,;
kelengkapan literatur; penjaminan mutu SDM; pembuatan prosedur tetap dan
pendokumentasiannya.
  Monitoring Terapi Obat, meliputi: pembuatan protap monitoring; evaluasi
perkembangan terapi pasien.
  Dokumentasi aktivitas profesional, meliputi: catatan pengobatan pasien
(Patient Medication Record/ PMR),  protap evaluasi diri  (self assesment)
untuk jaminan mutu  CPFB/ GPP.
3.  Aktivitas yang berhubungan dengan
Ketatnya persaingan di jaman globalisasi menyebabkan suatu pelayanan kesehatan saling
berlomba untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dengan berbagai macam
sumber daya yang dimiliki, pada sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa konsumen semakin
selektif dalam memilih sebuah produk  barang  /  jasa. Untuk dapat bersaing tidak hanya
cukup dengan memberikan  mutu pelayanan terbaik dalam mencapai apa yang disebut
dengan customer satisfaction akan tetapi mutu barang  /  jasa yang ditawarkan juga harus
mampu memberikan jaminan mutu, sehingga mampu memenuhi tuntutan konsumen. Oleh
karena itu penerapan Sistem Manajemen Mutu tidak dapat dihindari lagi.
Menurut Philip B. Crosby mutu adalah kesesuaian terhadap persyaratan (conformance to
requirement of spesification), seperti jam yang tahan air atau sepatu yang tahan lama.
Pendekatan Crosby adalah  proses top-down. W. Edwards Deming  berpendapat bahwa
mutu adalah pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus-menerus.

kartu pos

Jika  setelah  menggunakan  metode  grid  diatas  ada  kendala  dengan  tombol  Beranda,
Posting Lama, Posting Baru, atau tombol Home, Newer Post, Older Post, pada homepage
blog Anda hilang, solusinya adalah cari kode <b:includable  id='nextprev'>  pada  bagian
Edit HTML, lalu simpan kode ini <div style='clear:both;'/> dibawahnya.
World Health Organization (WHO) dan  International Pharmaceutical Federation (FIP)
telah menerbitkan panduan Good Pharmacy Practice (GPP) dan menghimbau semua
negara untuk mengembangkan standar minimal praktik farmasi.
Pelayanan kefarmasian sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan mempunyai
peran penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dimana
Apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan mempunyai tugas dan tanggung
jawab dalam mewujudkan pelayanan kefarmasian yang berkualitas.
Tujuan pelayanan kefarmasian adalah menyediakan dan memberikan sediaan farmasi
dan alat kesehatan serta informasi terkait agar masyarakat  mendapatkan manfaatnya
yang terbaik.
Pelayanan kefarmasian yang menyeluruh meliputi aktivitas promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif kepada masyarakat. Untuk memperoleh manfaat terapi obat yang
maksimal dan mencegah efek yang tidak diinginkan, maka diperlukan penjaminan
mutu proses penggunaan obat. Hal ini menjadikan apoteker harus ikut bertanggung
jawab, bersama-sama dengan profesi kesehatan lainnya dan pasien, untuk
tercapainya tujuan terapi yaitu penggunaan obat yang rasional.
Dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kefarmasian tersebut maka diperlukan
pedoman bagi Apoteker dan pihak lain yang terkait. Pedoman tersebut dituliskan
dalam bentuk Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (Good Pharmacy Practice)
sebagai perangkat untuk memastikan Apoteker dalam memberikan setiap pelayanan
kepada pasien agar memenuhi standar mutu dan merupakan cara untuk menerapkan
Pharmaceutical Care. Komitmen untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin untuk
kepentingan masyarakat, harus terus diupayakan dan ditingkatkan  oleh Apoteker
baik di Apotek, Puskesmas, Klinik maupun Rumah sakit.

tiga dimensi bola acyclovir

Nah,  kali  ini  saya  akan  berbagi  cara  atau  tips mengubah  tampilan  hompage  blog  yang
static  menjadi  grid/  kotak.  Namun  tentunya  blog  tersebut  akan  mengalami  sedikit
perubahan  pada  tampilannya,  yaitu  static  atau  listnya  akan memanjang  ke  bawah  dan
lebar, namun akan menjadi kotak­kotak kecil yang akan menghemat luas pada homepage
blog tersebut.
World Health Organization (WHO) dan  International Pharmaceutical Federation (FIP)
telah menerbitkan panduan Good Pharmacy Practice (GPP) dan menghimbau semua
negara untuk mengembangkan standar minimal praktik farmasi.
Pelayanan kefarmasian sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan mempunyai
peran penting dalam mewujudkan pelayanan kesehatan yang bermutu dimana
Apoteker sebagai bagian dari tenaga kesehatan mempunyai tugas dan tanggung
jawab dalam mewujudkan pelayanan kefarmasian yang berkualitas.
Tujuan pelayanan kefarmasian adalah menyediakan dan memberikan sediaan farmasi
dan alat kesehatan serta informasi terkait agar masyarakat  mendapatkan manfaatnya
yang terbaik.
Pelayanan kefarmasian yang menyeluruh meliputi aktivitas promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif kepada masyarakat. Untuk memperoleh manfaat terapi obat yang
maksimal dan mencegah efek yang tidak diinginkan, maka diperlukan penjaminan
mutu proses penggunaan obat. Hal ini menjadikan apoteker harus ikut bertanggung
jawab, bersama-sama dengan profesi kesehatan lainnya dan pasien, untuk
tercapainya tujuan terapi yaitu penggunaan obat yang rasional.
Dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kefarmasian tersebut maka diperlukan
pedoman bagi Apoteker dan pihak lain yang terkait. Pedoman tersebut dituliskan
dalam bentuk Cara Pelayanan Kefarmasian yang Baik (Good Pharmacy Practice)
sebagai perangkat untuk memastikan Apoteker dalam memberikan setiap pelayanan
kepada pasien agar memenuhi standar mutu dan merupakan cara untuk menerapkan
Pharmaceutical Care. Komitmen untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin untuk
kepentingan masyarakat, harus terus diupayakan dan ditingkatkan  oleh Apoteker
baik di Apotek, Puskesmas, Klinik maupun Rumah sakit.